Tsingshan Holding Group tengah mempertimbangkan pembangunan smelter aluminium baru di Indonesia dengan nilai investasi sekitar US$3 miliar. Rencana ini muncul di tengah meningkatnya permintaan global akibat terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Alcircle, proyek tersebut masih dalam tahap penjajakan bersama sejumlah calon mitra dan direncanakan berlokasi di Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara. Fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 800 ribu ton per tahun dan akan dibangun dalam dua tahap.
Langkah ini semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat baru produksi aluminium dunia. Dorongan datang dari derasnya investasi, terutama dari China, serta meningkatnya kebutuhan pasar global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada operasional sejumlah smelter besar mendorong pembeli mencari sumber alternatif, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data Fastmarkets, produksi aluminium Indonesia saat ini sekitar 1,1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,98 juta ton pada 2026. Dalam jangka panjang, kapasitasnya bahkan berpotensi mencapai 15,35 juta ton.
Ekspansi industri ini juga diperkuat oleh berbagai proyek lain, termasuk kolaborasi Tsingshan dengan Xinfa serta investasi dari perusahaan besar seperti Shandong Weiqiao, Harita Group, dan Nanshan Group.
Sumber pasar menyebutkan proyek ini masih dalam tahap awal, namun produksi diperkirakan dapat dimulai dalam waktu sekitar dua tahun. Dengan skala yang besar, pelaku industri menilai target penyelesaian dalam satu hingga dua tahun masih realistis.
Di sisi lain, permintaan aluminium global terus terdorong oleh gangguan pasokan. Konflik di Timur Tengah, termasuk dampaknya terhadap smelter seperti Emirates Global Aluminium dan Aluminium Bahrain, turut memperketat pasar.
Analis Fastmarkets memperkirakan kapasitas smelter di kawasan tersebut akan turun menjadi sekitar 3,445 juta ton pada 2026 dari 6,151 juta ton pada 2025, atau menyusut sekitar 44%.
Kondisi ini menjaga premi aluminium global tetap tinggi. Bahkan, dalam skenario eskalasi konflik lebih lanjut, harga aluminium berpotensi menembus kisaran US$4.000 hingga US$5.000 per ton, meski saat ini masih berada di bawah level tersebut.






Leave a Reply