Ekspor logam asal China, khususnya aluminium, tengah melonjak tajam. Lonjakan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan regional, sekaligus meningkatkan permintaan terhadap produk teknologi bersih seiring naiknya harga bahan bakar fosil.
Menurut asosiasi industri terkemuka di China, pengiriman aluminium dari negara tersebut berpotensi mencetak rekor baru tahun ini. Selain aluminium, tembaga—yang menjadi komponen penting dalam baterai dan teknologi energi bersih—juga diperkirakan ikut terdongkrak, seperti dilaporkan Bloomberg.
Gejolak di pasar komoditas global, mulai dari logam hingga energi, dipicu oleh konflik antara AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari. Situasi ini bahkan membuat Selat Hormuz nyaris tidak dapat dilalui.
Gangguan juga terjadi pada produksi aluminium di kawasan Teluk Persia, yang menyumbang sekitar 9% pasokan global. Serangan terhadap fasilitas peleburan di wilayah tersebut mendorong harga aluminium di London ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Kondisi ini justru menjadi peluang bagi produsen China, yang sebelumnya tertekan oleh krisis sektor properti dalam negeri. Di sisi lain, lonjakan harga minyak dan gas akibat konflik Iran membuat teknologi energi bersih semakin diminati, mempercepat peralihan dari energi fosil.
Produsen baterai besar China, Gotion High-Tech Co. Ltd., mencatat meningkatnya perhatian global terhadap transisi energi hijau. Xinyi Shen dari Centre for Research on Energy and Clean Air menyebut situasi ini semakin mengukuhkan posisi China berkat keunggulan biaya, kapasitas produksi, dan integrasi rantai pasok.
Meski demikian, ekspor aluminium primer dari China tetap terbatas karena kebijakan tarif yang bertujuan menjaga pasokan dalam negeri. Hal ini memperbesar dampak gangguan pasokan dari Timur Tengah dan membuat selisih harga antara pasar London dan Shanghai melebar ke level tertinggi sejak 2022.
Premi harga di pasar internasional bahkan disebut sangat tinggi oleh pejabat industri logam nonferrous China, sehingga mendorong aktivitas arbitrase. Sejak akhir Maret, pesanan luar negeri untuk produk aluminium China meningkat, terutama untuk kebutuhan jaringan listrik dan industri otomotif.
Beberapa pabrik pengolahan bahkan telah menerima pesanan penuh hingga Juni, didorong oleh permintaan dari sektor kendaraan listrik, baterai, sistem penyimpanan energi, hingga pusat data.
Ekspor aluminium strand yang digunakan dalam jaringan listrik diperkirakan melonjak dua kali lipat dibanding tahun lalu, mencapai 40.000–50.000 ton pada periode April–Mei, terutama ke negara-negara dalam inisiatif Belt and Road.
Pola serupa terlihat pada tembaga dan produk energi terbarukan lainnya. Ekspor kabel dan kawat tembaga naik 36% secara tahunan pada Maret. Sementara itu, pengiriman panel surya melonjak 80% dan baterai lithium-ion naik 34%, meski penghapusan insentif pajak berpotensi memperlambat pertumbuhan ke depan.
Ekspor kendaraan listrik dari China juga mencatat kenaikan 53% pada Maret. Tingginya harga minyak diperkirakan akan terus menopang permintaan kendaraan listrik serta kebutuhan tembaga dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, mahalnya bahan bakar fosil mendorong penggunaan energi surya dan baterai, terutama di negara dengan keterbatasan pasokan listrik. Hal ini tercermin dari peningkatan ekspor China ke kawasan Asia Tenggara dan Afrika, di mana banyak pelaku usaha mulai beralih ke kombinasi energi surya dan sistem penyimpanan untuk mengurangi ketergantungan pada diesel.
Di sisi lain, permintaan domestik China masih belum pulih sepenuhnya. Penjualan kendaraan listrik melambat, sementara pertumbuhan permintaan tembaga diproyeksikan turun menjadi 2,8% tahun ini, dari 3,8% pada tahun sebelumnya.






Leave a Reply